WhatsApp Image 2026-04-22 at 08.13.54
previous arrow
next arrow


KemenagPendidikan

Lewat Konsep Ekoteologi MAN 1 Soppeng Sukses Kembangkan Bank Sampah Plastik

62
×

Lewat Konsep Ekoteologi MAN 1 Soppeng Sukses Kembangkan Bank Sampah Plastik

Share this article

WARTASULSELNEWS.COM – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Soppeng kembali membuat terobosan lingkungan yang inspiratif. Bukan sekadar bersih-bersih biasa, madrasah peraih predikat Adiwiyata ini resmi mengembangkan inovasi Bank Sampah Botol Plastik.

Menariknya, gerakan ini digerakkan oleh napas ekoteologi—sebuah konsep yang memandang merawat bumi sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab iman.

Di bawah rindangnya lingkungan madrasah, Bank Sampah MAN 1 Soppeng yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Kabupaten Soppeng, kini naik kelas. Titik-titik strategis madrasah mulai dipenuhi wadah khusus botol plastik, memaksa warga sekolah untuk memilah sampah langsung dari sumbernya.

Pendekatan ekoteologi yang diterapkan MAN 1 Soppeng menggeser paradigma lama. Murid tidak hanya diajarkan bahwa sampah itu kotor, tetapi ditanamkan kesadaran bahwa menjaga kelestarian alam adalah mandat manusia sebagai khalifah di muka bumi.

​Kepala MAN 1 Soppeng, Dr. Musmuliadi, S.Ag., M.A., menegaskan bahwa nilai-nilai agama harus membumi dalam bentuk aksi nyata.

“Ekoteologi tidak boleh berhenti sebagai konsep atau materi pembelajaran di kelas. Nilai tersebut harus hadir dalam tindakan nyata, mulai dari memilah sampah hingga mengolahnya. Merawat lingkungan merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab kita kepada Sang Pencipta,” ujar Dr. Musmuliadi. Kamis (16/7).

Ia menambahkan, sifat plastik yang sulit terurai secara alami dan mengancam ekosistem global harus dilawan dengan pembiasaan sederhana namun konsisten, dimulai dari lingkungan madrasah.

Melalui Bank Sampah Botol Plastik ini, para murid diajak melihat botol bekas bukan sebagai limbah tak berguna, melainkan sebagai aset ekonomi sirkular. Botol yang terkumpul akan dipilah, ditimbang, dicatat, dan disalurkan ke mitra daur ulang.

Sebagai sekolah Adiwiyata, MAN 1 Soppeng tidak ingin inovasi ini sekadar menjadi program musiman. Ke depan, madrasah telah menyiapkan cetak biru untuk memperkuat program ini. Mulai dari edukasi pemilahan yang lebih masif, pelibatan aktif organisasi siswa, hingga pengembangan produk daur ulang kreatif yang bernilai jual tinggi.

Langkah MAN 1 Soppeng ini membuktikan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil. Satu botol yang masuk ke kotak sarana bank sampah mungkin terlihat sepele. Namun, jika dilakukan oleh ratusan siswa secara konsisten, ia akan menjelma menjadi gelombang penyelamat lingkungan.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!