WARTASULSELNEWS.COM – Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan dan lebih baik dari seribu bulan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebutkan kemuliaan malam ini dalam Surah Al-Qadr. Malam ini menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk meraih pahala besar dengan meningkatkan ibadah dan doa.
Penamaan Lailatul Qadar mengandung tiga makna yang saling bertautan:
Pertama, Penetapan Takdir (تقدير المقادير). Pada malam ini, menurut Ibnu Abbas segala urusan setahun ke depan mulai dari rezeki, ajal, kebaikan, dan keburukan ditetapkan. Ini adalah waktu di mana “hukum tahunan” diputuskan, menjadikannya saat paling tepat untuk memohon garis takdir yang mulia.
Kedua, Kemuliaan Nilai (عظمة الشأن). Malam ini agung karena di dalamnya turun kitab yang mulia (Al-Qur’an) kepada Rasul yang mulia untuk membentuk umat yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah.
Ketiga, Bobot Pahala Ibadah (قدر العمل). Sesuai dengan firman-Nya, satu malam ini memiliki nilai yang lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan di dalamnya setara dengan pengabdian selama lebih dari 83 tahun, sebuah anugerah bagi umat Muhammad saw. yang berumur pendek namun berharga.
Strategi Pencarian Waktu dan Cahaya di Sepuluh Malam Terakhir
Rasulullah saw. memberikan teladan mengenai manajemen waktu ibadah yang optimal, terutama saat memasuki fase akhir Ramadan. Beliau meningkatkan intensitas ibadah sebagai bentuk pencarian aktif bukan penantian pasif.
Berdasarkan hadis, terdapat dua waktu dalam melacak kehadiran malam mulia ini.
1. Sepuluh malam terakhir, anjuran secara umum untuk menghidupkan seluruh malam di penghujung Ramadan;
2. Malam-malam ganjil. Rasulullah saw. secara spesifik mengarahkan perhatian pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29).
Dari ke dua waktu di atas, dapat dikombinasikan strategi terbaik bagi seorang hamba adalah tetap istikamah (konsisten) di sepanjang sepuluh malam terakhir.
Fokus pada salah satu malam tertentu berisiko membuat kita kehilangan kesempatan meraih keutamaannya. Strategi ini memastikan bahwa kita tidak akan terlewatkan anugerah tersebut sekaligus melatih ketahanan jiwa.
Agar waktu di malam-malam terakhir tidak terbuang sia-sia, kita perlu meneladani tradisi Nabi saw. i’tikaf, tadarus Al-Quran, bersedekah minimal melalui kotak amal masjid, qiyamul lail (minimal salat tarwih, zikir dan doa (mengutamakan doa permohonan ampunan yang diajarkan Rasulullah) “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, menyukai ampunan, maka ampunilah aku).
Membangunkan dan mengajak anggota keluarga untuk beribadah bersama, sebagaimana yang dilakukan Nabi.
Marilah kita jadikan sepuluh malam terakhir ini sebagai momentum untuk menyucikan jiwa dan meraih keutamaan lailatul qadar. Kita tutup dengan doa yang tulus
اللهم اجعلنا ممن نال عفوك، واتصل بمددك، وفاز بشفاعة نبيك ﷺ في هذه الليلة المباركة.
(Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapatkan ampunan-Mu, terhubung dengan pertolongan-Mu, dan meraih syafaat Nabi-Mu pada malam yang diberkahi ini)
Penulis: Dr. Km. Mutaillah, S. Pd.I, M. Pd




















