Artikel

Shalat Tapi Tidak Khusyuk, Sah Atau Tidak? 

344
×

Shalat Tapi Tidak Khusyuk, Sah Atau Tidak? 

Share this article

WARTASULSELNEWS.COM – Shalat adalah silah atau penghubung antara hamba dengan Tuhannya. Sebuah dialog intim yang seharusnya tidak pernah kita putuskan, apa pun kondisinya.

Seringkali seseorang merasa dilema, pantaskah bersujud saat pikiran masih dipenuhi hiruk-pikuk dunia? Namun, perlu kita pahami bahwa shalat adalah sebuah ketetapan agama. Shalat bukanlah ritual yang menunggu kesempurnaan batin, melainkan fondasi yang membentengi diri kita.

Syekh Ali Jum’ah dalam laman facebooknya mengingatkan bahwa perintah shalat bersifat mutlak. Seseorang tidak boleh berkata pada dirinya “Aku akan mulai shalat nanti, setelah hatiku benar-benar khusyuk.” Pemikiran seperti ini justru merupakan jebakan yang menjauhkan kita dari rahmat-Nya.

Senada Anre Gurutta (AG). H. Farid Wajedi menyampaikan bahwa khusyuk bukan rukun dan syarat sah shalat. AG. H. Farid Wajedi juga memberikan wejangan bahwa shalatlah walaupun kalian pencuri, pemabuk, pendosa. Maksudnya?

Suatu saat shalat itu nanti memberikan pengaruh positif pada hati kalian sehingga bisa berhenti dari perilaku tersebut.

Penulis ingat, saat AG. H. Daud Ismail memberikan nasehat untuk shalat kepada sahabat penulis yang akan berangkat mengikuti kegiatan MTQ provinsi.

Menunggu datangnya rasa khusyuk untuk mulai bersujud hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk diperbaiki oleh shalat itu sendiri.

Sering kali, beban batin yang dirasakan seseorang muncul karena ketidakmampuan membedakan antara kelalaian yang fatal dan kelemahan manusiawi.  Disinilah agama hadir sebagai pelipur lara sekaligus memberikan petunjuk.

Dalam Surah Al-Ma’un, Allah Swt memberikan peringatan keras kepada mereka yang lalai terhadap shalatnya. Namun, ada sebuah catatan dari Ibnu Abbas RA, ia sangat bersyukur karena ayat tersebut menggunakan redaksi “As-sahwu’an” (lalai dari/terhadap waktu shalat) dan bukan “As-sahwu fi” (lupa/lalai dalam shalat.

Lalai terhadap shalat (As-sahwu ‘an) adalah sikap meremehkan, menunda-nunda dengan sengaja, hingga waktu shalat habis tanpa alasan yang syar’i.

Inilah bahaya nyata yang harus kita hindari karena mencerminkan pengabaian terhadap perintah Allah.

Lupa/pikiran tersesat saat shalat (As-sahwu fi) adalah kondisi di mana pikiran kita melayang ke urusan duniawi saat sedang berdiri di hadapan Allah. Hal ini bersifat manusiawi. Kabar baiknya, bahwa adanya gangguan konsentrasi di dalam shalat tidak membuat seseorang berdosa, karena Allah Maha Tahu betapa lemahnya fokus manusia.

Peran shalat Sunah Sebagai Penyempurna

Jika shalat fardu adalah bangunan utama, maka shalat sunah adalah jaring pengaman yang memastikan bangunan tersebut tetap tegak meski ada bagian yang retak.

Mendirikan shalat meski tanpa khusyuk yang sempurna sudah cukup untuk menggugurkan kewajiban hukum kita. Kita tidak lagi dianggap sebagai pembangkang atau orang yang meninggalkan kewajiban. Namun, kita menyadari bahwa pahala shalat ditetapkan sesuai dengan kadar kehadiran hati (yuktabu al-ajru ‘ala qadri hudhuri al-qalb).

Syekh Ali Jum’ah menambahkan bahwa shalat sunah adalah rahmat. Menambal robekan pada shalat fardu, dan menyempurnakan kekurangannya. Kualitas shalat yang mungkin terasa rendah seharusnya tidak membuat kita menyerah. Sebaliknya, hal itu harus memotivasi untuk memperbanyak sunah.

Dampak Konsistensi Terhadap Jiwa

Shalat adalah sebuah proses pendidikan jiwa yang berkelanjutan (tarbiyah). Manfaat terbesarnya sering kali tidak muncul dalam satu kilatan khusyuk yang instan, melainkan melalui akumulasi sujud yang kita jaga setiap harinya. Dalam jangka panjang, konsistensi atau dawam inilah yang akan membentuk karakter seorang mukmin.

Melalui rutinitas ibadah yang terjaga, shalat akan bekerja secara perlahan untuk melembutkan hati yang keras. Semakin sering kita bersimpuh, semakin lunak ego kita di hadapan kebesaran-Nya. Lebih dari itu, shalat berfungsi untuk mencegah liarnya jiwa (man’u at-tafallut). Jiwa manusia secara alami cenderung liar dan mudah terombang-ambing oleh syahwat.

Semakin kita konsisten, maka frekuensi kehadiran hati akan meningkat dengan sendirinya. Kualitas lahir dari kuantitas yang terjaga dengan penuh ketulusan. Pada akhirnya, shalat adalah tentang hubungan yang terus diupayakan, bukan tentang kesempurnaan yang dipaksakan dalam sehari semalam. Jangan biarkan bisikan setan yang mengatakan “Shalatmu tidak berguna karena tidak khusyuk“. Teruslah mengetuk pintu rahmat-Nya.

Penulis: Dr. Km. Mutaillah, S. Pd.I,.M.Pd

(Guru MAN 2 Kota Makassar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!