Artikel

Pesan Dakwah AG.H. Daud Ismail dalam Tafsir Al-Munir 

432
×

Pesan Dakwah AG.H. Daud Ismail dalam Tafsir Al-Munir 

Share this article

AG.H. Daud Ismail (Ist) 

WARTASULSELNEWS.COM- Bagi masyarakat Bugis, sosok Anre Gurutta (AG) H. Daud Ismail hadir sebagai penuntun menuju cahaya hidayah melalui karya monumentalnya, Tafsir al-Munir berbahasa Bugis. Tafsir ini merupakan sebuah ikhtiar spiritual untuk menyentuh relung batin masyarakat Bugis dengan bahasa yang mereka pakai sehari-hari.

Jejak Langkah AG.H. Daud Ismail

Keteladanan Anre Gurutta memberikan kita cermin bahwa dedikasi terhadap ilmu dapat melampaui batasan institusi formal. Kecemerlangan beliau tampak saat menimba ilmu pada AG.H. Muhammad As’ad (Gurutta Sade) di Wajo Sulawesi Selatan di mana beliau dipercaya menjadi Guru Bantu (asisten pengajar) meski masih berstatus santri. Dedikasi ini memuncak pada lahirnya Tafsir Al-Munir yakni tafsir 30 juz pertama yang lengkap dalam bahasa Bugis. Hingga wafatnya pada 21 Agustus 2006, beliau meninggalkan mahakarya yang berisi pesan bahwa agama harus disampaikan dengan bahasa yang paling dimengerti oleh umat.

Pesan untuk Para Dai Masa Kini

Dalam Tafsir Al-Munir, beliau menguraikan tiga pilar dakwah: Pertama, Menyeru kepada kebajikan (al-khair), dakwah harus menjadi kompas menuju nilai universal Islam. Kedua, Menyuruh kepada yang makruf, mengajak pada kebaikan yang sesuai syariat. Ketiga, Mencegah yang mungkar, keberanian mengoreksi penyimpangan sosial dan akidah secara persuasif.

Tiga pilar dakwah tersebut tidak cukup hanya dipahami sebagai teori, tetapi perlu diterapkan dalam berdakwah. Karena itu, dai masa kini membutuhkan panduan praktis agar pesan dakwah dapat disampaikan dengan jelas dan mudah diterima.

Pertama, Kesederhanaan dan ketepatan sasaran. Hindari istilah-istilah yang membingungkan.

Kedua, Kontekstual, dai harus berani merespons realitas lokal. Beliau secara tegas namun santun mengkritik praktik yang bertentangan dengan syariat.

Ketiga, Dakwah yang membumi. Keberhasilan dakwah diukur dari perubahan perilaku. Dai tidak boleh mencabut akar budaya yang baik, namun harus mampu memurnikan kebiasaan masyarakat dari unsur yang bertentangan dengan syariat.

Lebih lanjut beliau mengutip pendapat Syekh Ahmad Mustafa al-Maraghi mengenai beberapa syarat utama yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum mulai berdakwah, yaitu:

Pertama, Menguasai pengetahuan agama yang mendalam, yang mencakup pemahaman tentang Al-Qur’an, Hadis, sejarah nabi (sirah nabawiyah), serta sejarah Khulafaurasyidin.

Kedua, Memahami kondisi objek dakwah, yaitu memahami keadaan orang-orang atau masyarakat yang menjadi sasaran dakwah tersebut.

Ketiga, Menguasai bahasa yang digunakan oleh objek dakwah agar pesan dapat tersampaikan dengan efektif.

Keempat, Mengenal aliran atau mazhab yang dianut oleh masyarakat setempat.

Menjadi Golongan yang Beruntung

Pesan AG.H. Daud Ismail dalam tafsirnya “Nayina mennanro tau madda’wae/ matampae lao ridecengnge tau pada laba maneng ri lino-ahera”. Bahwa siapapun yang menyampaikan dakwah maka akan meraih keberuntungan dunia dan akhirat. Warisan spiritualitas beliau tetap tak lekang oleh zaman, mengingatkan kita bahwa dakwah yang paling efektif adalah dakwah yang disampaikan dengan kehangatan, kearifan, dan ketulusan jiwa. (*) 

 

Penulis Dr. Km. Mutaillah, S. Pd.I,.M.Pd

-Guru MAN 2 Kota Makassar

-Alumni Ponpes Yasrib Tahun 2002

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!