Oleh: Redaksi Wartasulselnews.com
Aroma kebahagiaan dan haru menyelimuti Bumi Latemmamala. Pelukan hangat, air mata kerinduan, dan lambaian tangan sanak keluarga menyambut kepulangan jemaah haji Kabupaten Soppeng. Predikat “Mabrur” kini tersemat di pundak mereka, diiringi doa agar keberkahan tanah suci melekat dalam keseharian di kampung halaman.
Namun, di balik riuhnya rasa syukur dan senyum sumringah para jemaah, ada satu lembar kisah yang kerap luput dari jepretan kamera utama. Kisah tentang mereka yang pulang dengan gurat lelah yang amat dalam di wajahnya, namun tetap tersenyum tulus. Mereka adalah Tim Tenaga Kesehatan (Nakes) Haji Soppeng.
Menjadi nakes pendamping jemaah haji bukanlah tugas dinas biasa; itu adalah seni mengesampingkan ego di atas segalanya. Ketika ratusan jemaah fokus mengetuk pintu langit dengan untaian doa di Padang Arafah, Muzdalifah, hingga Mina (Armuzna), para nakes justru harus membagi fokus mereka antara langit dan bumi. Di satu sisi mereka ingin bersujud khusyuk, namun di sisi lain, denyut nadi dan tarikan napas jemaah lansia adalah prioritas yang tak bisa ditunda sedetik pun.
Di bawah sengatan cuaca ekstrem Arab Saudi yang kerap menembus angka 45 derajat Celsius, ancaman heatstroke (sengatan panas) dan dehidrasi massal nyata di depan mata. Dalam kondisi sekritis itu, nakes Soppeng menjelma menjadi benteng pertahanan pertama.
Kita mungkin melihat jemaah haji Soppeng bisa berjalan tegap melempar jumrah. Namun, kita jarang melihat bagaimana beberapa jam sebelumnya, seorang perawat dengan sabar memijat kaki-kaki yang bengkak, menyuapi mereka yang kehilangan nafsu makan, hingga dengan telaten membersihkan kotoran jemaah lansia yang mengalami disorientasi atau pikun karena kelelahan.
Bagi jemaah lansia asal Soppeng, kehadiran nakes bukan lagi sekadar hubungan antara dokter dan pasien. Pendekatan kultural yang hangat—lewat tutur bahasa Bugis yang santun, prinsip Sipakatau (saling memanusiakan), dan Sipakalebbi (saling memuliakan)—membuat para nakes ini bertransformasi menjadi anak kandung tiruan di tanah suci. Sentuhan “bahasa ibu” inilah yang sering kali menjadi obat paling mujarab penawar stres dan rasa rindu rumah (homesick) bagi jemaah.
Secara materi atau status, tugas ini mungkin bagian dari tanggung jawab profesi. Namun, secara nurani, apa yang mereka lakukan sudah jauh melampaui batas jam kerja. Tidur yang hanya satu dua jam, kaki yang melepuh karena terus berjalan menyisir tenda, hingga tenggorokan yang kering demi memastikan jemaah tetap terhidrasi, dijalani tanpa sekali pun keluhan itu sampai ke telinga jemaah atau keluarga di rumah.
Oleh karena itu, sangatlah adil jika keberhasilan dan kelancaran ibadah haji Kabupaten Soppeng tahun ini tidak hanya diukur dari rapinya manajemen pemberangkatan atau fasilitas hotel yang didapatkan. Kesuksesan ini adalah akumulasi dari ketulusan, tetesan keringat, dan doa-doa sunyi para tenaga kesehatan yang berdiri kokoh di garis belakang.
Saat jemaah haji melangkah masuk ke rumah masing-masing dengan jubah kebesaran dan senyum mabrurnya, mari kita luangkan satu momen untuk mengapresiasi para pahlawan berbaju putih ini. Di balik setiap senyum mabrur jemaah haji Soppeng, ada lelah nakes yang membeku menjadi ibadah. Mereka mungkin tak mengharap puji, namun dedikasi mereka mutlak abadi di hati kita semua.
Selamat kembali ke tanah air, para pejuang kesehatan haji Soppeng. Istirahatlah, tugas mulia Anda telah tunai dengan sangat indah. (*)














