ArtikelEdukasiKemenagOpiniPendidikan

Kurban: Keteladanan Nabi Ibrahim, Distribusi Sosial, dan Transformasi Akhlak

117
×

Kurban: Keteladanan Nabi Ibrahim, Distribusi Sosial, dan Transformasi Akhlak

Share this article

Oleh: Dr. KM. Mutaillah,S.Pd., M. Pd

WARTASULSELNEWS.COM – Ibadah kurban adalah puncak ujian iman yang digambarkan melalui pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. terhadap putranya, Ismail a.s. Ujian ini datang saat Ismail berusia sanggup bekerja, usia di mana seorang anak sedang manis-manisnya dan menjadi tumpuan harapan orang tua.

Melalui mimpi yang benar, Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail dengan tangannya sendiri. Dialog yang terjadi menunjukkan kedewasaan iman Ismail. Tanpa keraguan, Ismail berkata, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Bahkan, Ismail memberikan permintaan khusus yang sangat menyentuh, ia meminta ayahnya untuk mengikat tangannya agar tidak meronta, dan memalingkan wajahnya ke tanah (tidak saling memandang) agar rasa kasih sayang seorang ayah tidak menghalangi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah.

Selanjutnya, A.G. H. Daud Ismail menjelaskan dalam tafsirnya, ketika Nabi Ibrahim a.s. memantapkan hati untuk melaksanakan perintah tersebut, datanglah malaikat dari sisi beliau. Malaikat itu diutus oleh Allah Swt. untuk menyampaikan kepada Nabi Ibrahim dengan berkata: “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi yang diperlihatkan kepadamu karena engkau benar-benar akan menyembelih anakmu. Sungguh telah nyata ketulusan hatimu dalam melaksanakan perintah Tuhanmu dan nyata pula kesabaranmu dalam menerima ketentuan-Nya.”

Kemudian Ismail digantikan dengan seekor kambing/ kibas besar bertanduk, lalu itulah yang disembelih oleh Nabi Ibrahim. Peristiwa itu kemudian menjadi sunah penyembelihan kurban hingga pada masa Nabi Muhammad saw. bersama umatnya.

Distribusi Kurban dan Pesan Keagamaan

Ibadah kurban memiliki mekanisme distribusi yang memastikan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat, sehingga kegembiraan hari raya dapat dirasakan secara merata.

Pembagian daging kurban diatur sedemikian rupa untuk menjamin keseimbangan antara rasa syukur pribadi dan kepedulian sosial:

A. Bagian untuk fakir miskin sebagai bentuk jaminan sosial
B. Bagian sebagai hadiah, diberikan kepada kerabat atau tetangga untuk memperkuat ikatan silaturahmi;
C. Bagian untuk keluarga yang berkurban, diperbolehkan mengonsumsi sebagian daging sebagai bentuk taḥadduṡ bin-ni’mah (mensyukuri nikmat). Adapun jika kurban tersebut merupakan nazar (janji), maka seluruh daging wajib diberikan kepada fakir miskin.

Dijelaskan oleh AG.H. Farid Wajedi. Kurban bukan hanya memberi manfaat bagi penerima, tetapi juga membawa berkah luar biasa bagi pelakunya (pekurban). Pahala tak terhingga, keberkahan rezeki, penghapus dosa, penolak bala bagi diri dan keluarga, dan penghalang dari jilatan api neraka di akhirat.

Kurban Menyembelih Sifat Kebinatangan sebagai Sarana Transformasi

Sebagaimana ditekankan oleh Imam Gazali, esensi kurban adalah simbolisasi dari upaya menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia. Hewan ternak yang disembelih hanyalah wasilah, sasaran utamanya adalah penghilangan sifat rakus, ingin memperoleh lebih banyak daripada yang diperlukan dan egoisme, sifat mau menang sendiri, tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahtreraan orang lain.

Kurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sarana transformasi spiritual untuk menundukkan “berhala” hawa nafsu, seperti kerakusan dan egoisme. Keberhasilan mengendalikan sifat-sifat tersebut menjadi bukti nyata ketakwaan yang tercermin dalam akhlak mulia dan kehidupan sosial yang harmonis. (*)







Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!