WARTASULSELNEWS.COM – Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan Aras bergerak cepat merespons laporan video warga terkait kondisi abrasi Sungai Walanae yang ada di Lingkungan Eree, Kelurahan Solo, Kecamatan Bola, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
Abrasi yang terus meluas di wilayah perbatasan Kabupaten Wajo dan Bone itu kini berstatus siaga darurat karena mengancam akses jalan serta keselamatan warga di sekitar bantaran sungai.
Andi Iwan Aras kemudian berkoordinasi dengan Anggota Komisi D DPRD Sulawesi Selatan dari Fraksi Partai Gerindra, Sultan Tajang, dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan-Jeneberang melalui satuan kerja PJSA-PJPA segera melakukan peninjauan lapangan.
Atas arahan Ketua DPD Partai Gerindra Sulawesi Selatan itu, Sultan Tajang turun ke lokasi bersama dengan pihak Balai dan Camat Bola Andi Abdul Dzuljalali Wal Ikram dan komunitas Roemah Djoeang AIA.
Mereka meninjau titik abrasi di jalur vital penghubung Kabupaten Wajo dan Bone yang mengalami kerusakan cukup parah.
Berdasarkan hasil pengukuran Pemerintah Kecamatan Bola, abrasi telah mengikis sekitar 200 meter bahu jalan. Dua titik kerusakan terparah masing-masing mencapai sekitar 50 meter dan 157 meter.
Kondisi di lokasi kini memasuki tahap darurat. Bahu jalan yang ambruk membuat kendaraan roda empat tidak lagi dapat melintas secara normal.
“Keselamatan warga harus menjadi prioritas utama. Kondisi abrasi ini sudah sangat memprihatinkan dan membutuhkan langkah cepat sebelum menimbulkan korban jiwa,” ujar Sultan Tajang di sela peninjauan, Senin 25 Mei 2026.
Selain itu, abrasi terjadi tepat di depan kawasan permukiman padat penduduk sehingga mengancam rumah-rumah warga di sekitar sungai.
Sultan Tajang menegaskan pemerintah pusat melalui BBWS Pompengan-Jeneberang harus segera melakukan penanganan permanen maupun langkah darurat agar kerusakan tidak semakin meluas.
“Jika tidak segera ditangani, abrasi ini bukan hanya mengancam akses jalan, tetapi juga keselamatan warga dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan Wajo-Bone,” tegasnya.
“Penanganan titik abrasi sungai Walanae perlu ditindaklanjuti segera, karena akan berdampak pada sekitar 300 hektar Lahan perawahan, dan ada sekitar 30 hektar perkebunan, termasuk rumah ratusan rumah warga,” tambah Sultan Tajang.
Selain meninjau abrasi di Kelurahan Solo, Sultan Tajang juga mendatangi lokasi abrasi di Dusun Tobaku, Desa Benteng Lompoe, Kecamatan Sabbang Paru, Kabupaten Wajo. Kondisi di wilayah tersebut juga dinilai telah memasuki tahap darurat dan membutuhkan penanganan cepat dari pihak terkait.
Warga berharap pemerintah segera merealisasikan penanganan permanen agar abrasi Sungai Walanae tidak semakin meluas dan menimbulkan dampak lebih besar bagi masyarakat sekitar.
Peninjauan Abrasi di Desa Benteng Lompoe hadir Anggota DPRD Kabupaten Wajo Fery Saputra Santu dan Kepala Desa Benteng Lompoe, Herman serta sejumlah tokoh masyarakat.


















