EdukasiInternasionalKesehatanNasionalPendidikan

Inspiratif! Putra Soppeng Raih Gelar Dokter di Usia 23 Tahun, Punya Rekam Jejak Lintas Benua

1073
×

Inspiratif! Putra Soppeng Raih Gelar Dokter di Usia 23 Tahun, Punya Rekam Jejak Lintas Benua

Share this article

WARTASULSELNEWS.COM– Suasana khidmat menyelimuti Baruga A.P. Pettarani, Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Tamalanrea, saat prosesi pengambilan sumpah dokter baru berlangsung pada Senin siang (22/06/2026). Di antara ratusan wisudawan yang berbahagia, sosok dr. Ahmad Mundzir, S.Ked., berhasil mencuri perhatian.

Bagaimana tidak, di usianya yang baru menginjak 23 tahun, putra asli Soppeng ini resmi menyandang gelar dokter. Keberhasilan ini diraihnya setelah melewati perjalanan pendidikan lintas benua yang penuh warna dan sarat akan cerita perjuangan.

Dari Ganra ke Timur Tengah

Lahir pada tahun 2003, dr. Mundzir merupakan putra dari pasangan H. A. Jamal, Lc., M.A., dan Hj. Zul Yusuf, yang berasal dari Ganra / Laburawung, Kabupaten Soppeng. Di kampung halamannya, sosok Mundzir mungkin belum banyak dikenal luas. Hal ini wajar, mengingat sebagian besar masa mudanya dihabiskan di luar negeri mengikuti penugasan dan perjalanan kedua orang tuanya.

Pendidikan membawanya melanglang buana hingga ke Negeri Seribu Menara, Mesir. Namun, di balik jubah dokter dan keberhasilan yang disandangnya hari ini, tersimpan cerita unik tentang adaptasi dan kegigihan yang luar biasa.

Jauh sebelum menapaki bangku perkuliahan, Mundzir kecil sempat mengenyam pendidikan di SDN 23 Tanete, Lapajung, Watansoppeng. Menariknya, ia tidak sempat menamatkan sekolah di sana karena alasan yang terbilang unik. Kala itu, ia sering menangis dan mengeluh sakit perut setiap kali di sekolah, namun sembuh seketika saat tiba di rumah.

​”Belakangan baru terungkap bahwa itu bukan sakit fisik, melainkan rasa frustrasi karena saya belum memahami bahasa daerah (Bugis) yang saat itu dominan digunakan dalam proses mengajar,” kenang dr. Mundzir sambil tersenyum.

Kendalanya dalam mengerti bahasa daerah tersebut justru menjadi pemantik awal petualangan internasionalnya. Ia kemudian ikut orang tuanya kembali ke Timur Tengah, belajar beberapa waktu di Mesir, lalu pindah ke Yaman dan bersekolah di British International School, Kota Sana’a.

Namun, pecahnya perang di Yaman memaksanya harus mengungsi dan kembali ke Indonesia saat duduk di kelas 5 SD. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Depok, Jawa Barat, mulai dari SDN 03 Pengasinan, SMPN 14, hingga sempat mencicipi masa orientasi di SMAN 6 Depok.

Menempa Prestasi di Kairo

Kerinduan untuk menimba ilmu di luar negeri kembali muncul saat ia berusia 14 tahun. Dengan tekad yang kuat, Mundzir memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Indonesia Cairo (SIC), Mesir.

Di SIC, Mundzir tidak hanya unggul secara akademik melalui Kurikulum 2013, tetapi juga mengasah nalar metodologisnya. Ia tercatat sebagai finalis World Mathematics Invitational (WMI) dan sukses menjuarai lomba debat Bahasa Inggris antar sekolah internasional di Mesir.

Bekal ijazah kelulusan dari SMA SIC Mesir inilah yang kemudian membukakan jalan baginya untuk menembus ketatnya persaingan di Fakultas Kedokteran Unhas, yang diumumkan pada 8 April 2020 lalu.

Dedikasi Kemanusiaan dan Pesan Orang Tua

Selama masa studi kedokteran di Makassar, pemuda yang hobi mendaki gunung dan bermain bulu tangkis ini tidak hanya berfokus di bangku kuliah. Di tengah kesibukannya yang padat, ia aktif mendedikasikan diri di Calcaneus Medical Assistance Team (TBM Calcaneus) FK Unhas. Bersama organisasi relawan medis ini, ia terjun langsung ke berbagai lokasi bencana dan aksi sosial.

“Ayah selalu berpesan bahwa menolong sesama adalah pintu untuk meraih keberkahan dan ridha Allah SWT. Pesan itulah yang saya pegang teguh, bahwa profesi dokter adalah amanah untuk membantu tanpa membeda-bedakan,” ungkapnya tulus.

Siap Mengabdi untuk Indonesia dan Soppeng

Setelah resmi mengucap sumpah dokter, dr. Mundzir menyatakan kesiapannya untuk menjalani masa pengabdian, termasuk jika harus ditempatkan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Tak sampai di situ, ia juga memendam cita-cita untuk melanjutkan pendidikan dokter spesialis melalui jalur beasiswa, baik di dalam maupun luar negeri.

Di tengah rasa syukurnya kepada Allah SWT serta apresiasi mendalam bagi orang tua, guru, dan rekan sejawatnya, dr. Mundzir tetap menaruh harapan besar untuk masa depan. Meski telah melanglang buana ke berbagai negara, hatinya tetap tertambat pada tanah air.

“Saya berharap karunia yang Allah berikan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, dan tentu saja, saya berharap nantinya dapat memberikan kontribusi terbaik bagi kampung halaman tercinta, tanah kelahiran kedua orang tua saya, Kabupaten Soppeng,” pungkasnya dengan optimis. (*)







Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!