Artikel

Gelar Bukan Segalanya (Keteladanan Rendah Hati Dua Bangsawan Bugis)

199
×

Gelar Bukan Segalanya (Keteladanan Rendah Hati Dua Bangsawan Bugis)

Share this article

Oleh: H. Ahmad Saransi

 

OPINI – Hubungan antara H. Andi Wana, Datu Soppeng, dengan H. Andi Mappanyukki, Arumpone, terjalin sangat erat—bukan hanya karena kesamaan pandangan dan sikap hidup, tetapi juga karena ikatan kekeluargaan yang kuat sebagai besan. Ikatan itu dipererat melalui pernikahan anak-anak mereka: Andi Galib Wana, Datu Marioriawa, dengan Bau Tenri, Datu Bau, putri Andi Mappanyukki. Peristiwa ini bukan sekadar penyatuan dua keluarga bangsawan besar, melainkan simbol persenyawaan nilai, etika, dan keteladanan.

Sebagai bangsawan tinggi, H. Andi Wana dan Andi Mappanyukki dikenal memiliki kesamaan sikap: bijak, rendah hati, dan menolak menjadikan gelar kebangsawanan sebagai alat penonjolan ego di tengah masyarakat. Keduanya memandang bahwa martabat sejati tidak lahir dari sebutan, melainkan dari laku hidup yang beradab dan pengabdian kepada rakyat.

Keteladanan itu tampak jelas dalam pesan-pesan mereka kepada anak-anaknya. H. Andi Wana berpesan dengan tegas namun penuh kebijaksanaan:

“Jangan sekali-kali menyebut dirimu seorang Datu (bangsawan). Jangan pula engkau marah kepada rakyatmu jika mereka tidak menyebutmu Datu. Namun, bila mereka menyebutmu Datu, maka terimalah.”

Pesan ini menegaskan etika kepemimpinan yang bersandar pada kerendahan hati, bahwa penghormatan sejati datang dari masyarakat, bukan dari tuntutan pribadi.

Sejalan dengan itu, Andi Mappanyukki menyampaikan pesan yang sama bernasnya kepada anak-anaknya:

“Jika ada bertanya kepadamu, siapa kau atau siapa namamu, maka jawab saja Parenrengi, jangan kau sebut Bau Parenrengi atau Andi atau Karaeng. Sebab gelar kebangsawanan itu diberikan oleh masyarakat, bukan oleh diri kita. Jadi bukan kita yang harus memperkenalkan diri kita atau meminta orang menyebut gelar kebangsawanan kita kepada orang lain. Camkan itu baik-baik di hatimu. Manusia tidak ditentukan derajat kebangsawanannya, tetapi oleh budinya di masyarakat.”

(Pesan ini dicatat oleh Hamid Abdullah dalam biografi Andi Pangerang Petta Rani.)

Dengan demikian, hubungan kekeluargaan antara Datu Soppeng dan Arumpone bukan hanya terikat oleh pernikahan, tetapi juga oleh kesamaan nilai moral: memuliakan manusia karena budinya, bukan karena gelarnya. Inilah warisan etis yang mereka titipkan, sebuah teladan kepemimpinan Bugis yang menempatkan ade’ (adat), siri’ (harga diri), dan kebajikan sosial di atas segala atribut kebangsawanan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!