News

‎Pulang Ke Almamater, Kamad MAN 1 Soppeng Bagikan Praktik SRA di Pesantren Sengkang ‎

361
×

‎Pulang Ke Almamater, Kamad MAN 1 Soppeng Bagikan Praktik SRA di Pesantren Sengkang ‎

Share this article

‎WAJO – Semangat pengabdian kepada almamater ditunjukkan oleh Kepala MAN 1 Soppeng, Dr. Musmuliadi, S.Ag., M.A. Ia hadir sebagai narasumber dalam Workshop Pesantren Ramah Anak Batch 2 di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, pada Rabu (28/10/2026).

‎Dalam kegiatan bertema “Mewujudkan Pesantren Ramah Anak Melalui Disiplin Positif dan Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Pesantren” tersebut, Musmuliadi membawakan materi “Hukuman dan Disiplin Positif” di hadapan para pengasuh pondok pesantren.

‎Kehadiran Musmuliadi memiliki makna tersendiri karena ia merupakan alumni Pondok Pesantren As’adiyah. Momen kembali ke almamater ini dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah anak.

‎Dalam pemaparannya, Musmuliadi menekankan pentingnya menggeser paradigma pendidikan dari pendekatan hukuman menuju disiplin positif yang mendidik. Kedisiplinan hendaknya dibangun melalui keteladanan, komunikasi yang baik, kesepakatan bersama, serta pembiasaan tanggung jawab tanpa rasa takut atau kekerasan.

‎Ia juga mengajak para pengasuh pesantren untuk menjadikan nilai-nilai pendidikan Islam dan keteladanan Rasulullah SAW sebagai landasan mendidik. Pembina dan pengasuh diharapkan mampu menjadi teladan nyata bagi seluruh santri demi membentuk karakter yang kuat.

‎Pengalaman Musmuliadi mengantarkan MAN 1 Soppeng meraih predikat Satuan Pendidikan Ramah Anak Terbaik Nasional Tahun 2018 dari Kementerian PPPA RI serta standarisasi ulang pada tahun 2021 menjadi bukti nyata praktik baik yang dibagikannya.

‎“Sebagai alumni, tentu menjadi kebanggaan dapat kembali ke almamater dan mengambil bagian dalam mewujudkan pesantren yang ramah anak. Pesantren harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan memanusiakan santri,” ujar Musmuliadi.

‎Melalui workshop ini, diharapkan para pengasuh pesantren semakin memahami bahwa disiplin positif menghadirkan ketegasan yang mendidik tanpa kekerasan, sehingga tradisi pembentukan karakter tetap terjaga sekaligus memastikan hak-hak anak terpenuhi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!