WhatsApp Image 2026-08-04 at 21.20.01
previous arrow
next arrow


DaerahEdukasiEkonomiNasionalOpini

Kisah Asti Alimin Membelah Laut Demi Bawa Akses KUR Ke Pulau Kelang

15
×

Kisah Asti Alimin Membelah Laut Demi Bawa Akses KUR Ke Pulau Kelang

Share this article

WARTASULSELNEWS.COM – Berdiri waspada di atas perahu fiber yang bergoyang dihempas gelombang Selat Haya, jemari Asti Alimin mencengkeram erat pinggiran perahu. Matanya menatap menembus cakrawala Kepulauan Maluku yang cuacanya kerap berubah drastis. Bagi Asti, lautan bukan sekadar jalur transportasi, melainkan medan pengabdian untuk merajut harapan warga kepulauan terpencil.

Asti adalah seorang Mantri BRI dari Kantor Cabang Masohi Unit Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat. Sejak tahun 2020, ia mengemban amanah mengelola wilayah operasional yang didominasi lautan dan pulau-pulau kecil—salah satu yang paling menantang adalah Pulau Kelang.

Sebelum Asti hadir, Pulau Kelang menyimpan potensi ekonomi besar yang terisolasi. Akses terhadap layanan perbankan resmi hampir nol akibat kendala jarak dan kondisi geografis yang ekstrem.

​”Ada satu pulau yang baru kami buka layanannya karena banyak permohonan masyarakat yang selama ini terkendala jarak,” ujar Asti, Jumat (7/8/2026).

Perjalanan Asti melayani nasabah bukanlah rutinitas kantor biasa. Untuk mencapai Pulau Kelang, ia harus menempuh jalan darat selama satu jam dari Piru menuju Waesala. Dari sana, ia harus mengarungi laut bebas selama satu jam menggunakan perahu kecil, ditambah satu jam perjalanan laut lagi untuk menjangkau dusun-dusun terisolasi.

Tantangan kian berat saat musim barat tiba. Perairan Waesala hingga Selat Haya kerap diterjang gelombang tinggi yang membahayakan keselamatan.

​Lantas, apa yang mendorong wanita ini bertaruh nyawa di tengah laut?

​”Saat kuliah, saya melihat keluarga sendiri di pulau kesulitan dapat modal usaha. Mereka harus berlayar jauh ke Ambon atau Masohi, tapi sering pulang tangan hampa karena dianggap tidak terjangkau bank. Lebih menyedihkan lagi, banyak warga ditipu oknum yang janji kasih pinjaman tapi malah kabur usai minta uang muka jutaan rupiah. Itu motivasi saya. Kasihan orang-orang ini, mereka mau bekerja tapi ditipu,” tutur Asti.

Awal kedatangan Asti tak langsung diisi dengan penawaran kredit. Ia memulainya dari akar rumput: Membangun Agen BRILink, memberikan Edukasi Keuangan hingga Mengenalkan Aplikasi Digital.

“Saya pernah ketemu nasabah simpan uang di dalam bantal sampai hancur dimakan tikus. Saya bilang, jangan disimpan begitu, nanti dimakan tikus tidak laku lagi,” kenangnya sambil terkekeh.

Kini, dedikasi Asti berbuah manis. Dari nol, ia kini mengelola lebih dari 700 debitur di wilayah kepulauan. Namun baginya, angka hanyalah statistik; perubahan hidup wargalah yang utama.

“Setiap kali dengar mereka bilang ‘untung ada kamu berani buka akses ke sini’, rasa lelah saya langsung hilang,” ungkap Asti haru.

Harapan Asti sederhana: ia ingin masyarakat pulau memiliki kesempatan ekonomi yang setara dengan wilayah lain di Indonesia dan mandiri secara finansial.

​Dihubungi secara terpisah, Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa sosok seperti Asti adalah cerminan utama komitmen BRI dalam pemerataan ekonomi hingga ujung negeri.

​”Kisah Asti Alimin menjadi cerminan semangat para Mantri BRI dalam menghadirkan layanan keuangan hingga ke pelosok negeri. Di tengah keterbatasan akses dan tantangan alam, BRI membuktikan bahwa selain membuka akses perbankan, inklusi keuangan juga menghadirkan harapan, mendorong kemandirian, dan membuka peluang bagi masyarakat untuk tumbuh bersama,” pungkas Dhanny.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!