SOPPENG — Ratusan pasang mata siswa-siswi SMKN 1 Watansoppeng tampak antusias menyimak setiap pesan moral dan edukasi hukum yang disampaikan dalam kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Senin (19/10/2026).
Kegiatan strategis ini diinisiasi oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lalabata bekerja sama dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Kabupaten Soppeng.
Lebih dari 100 siswa-siswi memadati ruangan untuk membekali diri dengan pemahaman tentang pendewasaan usia pernikahan, kesehatan mental remaja, hingga etika dalam memanfaatkan teknologi digital.
Apresiasi tinggi datang dari pihak sekolah. Perwakilan Kepala SMKN 1 Watansoppeng mengungkapkan rasa terima kasih atas kepercayaan KUA Lalabata dan PUSPAGA yang menjadikan sekolah mereka sebagai ruang edukasi character building ini.
”Kami sangat berterima kasih dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya. Informasi dan pemahaman seperti BRUS ini sungguh sangat dibutuhkan oleh para siswa di tengah pesatnya arus informasi saat ini,” ujarnya hangat dalam sambutan pembuka.
Hadir sebagai narasumber utama, Kepala KUA Kecamatan Lalabata, H. Muhammad Yunus, secara lugas mengupas tuntas regulasi pernikahan di Indonesia sesuai Undang-Undang No. 16 Tahun 2019.
Ia menekankan bahwa batas usia minimal pernikahan baik bagi laki-laki maupun perempuan adalah 19 tahun. Tak sekadar menyampaikan aturan hukum, H. Muhammad Yunus juga mengetuk hati para remaja dengan nasihat spiritual dan motivasi hidup.
“Pertahanan terbaik seorang remaja dimulai dari menjaga shalat. Jika shalatmu teratur, dirimu, keluargamu, dan nama baik sekolahmu akan senantiasa terjaga. Tugas utama kalian hari ini sederhana namun menentukan: belajar sungguh-sungguh dan kejarlah cita-citamu, ” pesan H. Muhammad Yunus membakar semangat audiens.
Pada sesi kedua, suasana edukasi semakin interaktif saat Aszriana AB, Penyuluh Agama KUA Lalabata yang juga Pengurus PUSPAGA Soppeng, naik ke mimbar materi.
Aszriana membedah krusialnya kolaborasi antara orang tua dan guru dalam mengawal tumbuh kembang karakter remaja.
Di samping itu, ia memberikan peringatan keras terkait penggunaan gawai (smartphone) tanpa kontrol yang kerap menyeret remaja pada hal-hal destruktif.
”Anak-anakku sekalian, gawai di genggamanmu bisa menjadi pisau bermata dua. Jika digunakan untuk hal-hal yang tidak baik, ia akan merusak masa depanmu. Di sinilah peran penting orang tua dan guru untuk saling bergandengan tangan menuntun kalian agar tetap berada di jalur yang benar,” tegas Aszriana.
Melalui program BRUS ini, KUA Lalabata bersama PUSPAGA Soppeng berharap dapat melahirkan generasi muda Soppeng yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, serta memiliki ketahanan moral yang kokoh menuju masa depan yang cemerlang.














