WARTASULSELNEWS.COM – Suara gemericik air yang mengalir jernih dari kawasan wisata alam bersejarah Jompi Pitue di Desa Citta, Kecamatan Citta, Kabupaten Soppeng menjadi saksi sebuah komitmen besar. Di bawah keteduhan mata air dengan tujuh saluran alami tersebut, sebuah visi mendalam tentang masa depan dakwah di Kabupaten Soppeng ditegaskan kembali.
Momen istimewa ini terjadi dalam acara musyawarah pembubaran, pembentukan, sekaligus rapat kerja program Persatuan Majelis Taklim (PERMATA) se-Desa Timusu pada Selasa (7/7/2026).
Di hadapan para pengurus dan jemaah, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Soppeng, Dr. Muhammad Yunus, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan ajakan menyentuh untuk membawa majelis taklim naik kelas—menjadi gerakan dakwah yang menghadirkan manfaat nyata bagi umat.
Ada alasan kuat mengapa Jompi Pitue dipilih sebagai lokasi pertemuan. Dr. Muhammad Yunus merajut filosofi lokal yang sarat makna untuk menggambarkan peran ideal majelis taklim di tengah-tengah masyarakat.
“Jompi Pitue adalah metafora yang sempurna bagi peran majelis taklim. Satu sumber air yang sama mengalir lewat tujuh saluran berbeda untuk menghidupi, menyirami, dan memberi manfaat bagi seluruh makhluk di sekitarnya. Begitu pula majelis taklim berakar dari satu sumber keimanan dan Al-Qur’an, namun harus hadir dalam berbagai bentuk pelayanan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat,” tegas Yunus penuh takzim.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa seperti air yang mengalir tanpa memilah siapa yang berhak meminumnya, majelis taklim juga tidak boleh eksklusif. Pengajian tidak boleh berhenti di dalam masjid atau sekadar menjadi ruang penyampaian ilmu, melainkan harus bertransformasi menjadi aksi nyata.
Melalui momentum ini, Kemenag Soppeng ingin mendorong lahirnya Majelis Taklim Berdampak sebuah wadah yang mampu menerjemahkan ayat-ayat suci menjadi solusi atas problematika sosial.
Pertemuan strategis ini juga dihadiri oleh Kepala KUA Liliriaja, Ketua BKMT Kecamatan Liliriaja, Ketua PERMATA Desa Timusu, perwakilan majelis taklim se-Desa Timusu, serta para Penyuluh Agama Islam. Kehadiran para tokoh ini memperkuat sinergi lintas lini demi menyukseskan program nasional “Kemenag Berdampak”.
Melalui kolaborasi yang solid, diharapkan lahir gerakan dakwah yang lebih inovatif, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga keberadaan majelis taklim benar-benar dirasakan denyut manfaatnya oleh masyarakat luas.
Di akhir arahannya, Dr. Muhammad Yunus menutup dengan pesan penyejuk yang menggetarkan hati, mengingatkan kembali esensi sejati dari pengabdian:
“Filosofi Jompi Pitue bukan sekadar tentang tujuh saluran air, melainkan tentang satu sumber keimanan yang mengalir dalam beragam bentuk pengabdian. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ‘Khairunnas anfa’uhum linnas’—sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesamanya. Semangat itulah yang kini menjadi ruh gerakan Majelis Taklim Berdampak di Kabupaten Soppeng, ” ucapnya.














