Oleh: Wahyuddin Hakim, (Kabid Pendidikan Madrasah Kemenag Sulsel).
WARTASULSELNEWS.COM – Ada sebuah kesadaran penting ketika pemimpin melahirkan gerakan perubahan yang perlu terus ditumbuhkan dalam dunia pendidikan: keberhasilan madrasah tidak hanya diukur dari prestasi akademik, banyaknya peserta didik yang meraih penghargaan, atau megahnya fasilitas pendidikan.
Keberhasilan madrasah juga tercermin dari kemampuannya membentuk generasi yang beriman, berakhlak, peduli terhadap sesama, dan bertanggung jawab terhadap kelestarian alam.
Kesadaran inilah yang menemukan relevansinya dalam gagasan BARISAN SIPAKAINGE, sebuah gerakan penguatan ekoteologi berbasis kearifan lokal Sulawesi Selatan yang digagas oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, sebagai proyek perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXX Tahun 2026.
Gagasan tersebut mengusung tema Strategi Implementasi Ekoteologi di Sulawesi Selatan Berbasis Kearifan Lokal melalui Gerakan BARISAN SIPAKAINGE. Proyek perubahan ini menawarkan cara pandang yang lebih luas tentang pengelolaan lingkungan di lingkungan Kementerian Agama, khususnya di lingkungan madrasah.
Ekoteologi tidak cukup dilaksanakan melalui kegiatan penanaman pohon, kerja bakti, atau kampanye kebersihan yang berlangsung sesekali. Lebih dari itu, kepedulian terhadap alam perlu ditanamkan menjadi sistem, dibangun sebagai kebiasaan, dan dikembangkan sebagai budaya kelembagaan yang dapat diukur serta dipertahankan.
Dalam kerangka tersebut, madrasah memiliki posisi yang sangat strategis. Madrasah bukan sekadar penerima program, melainkan ruang penting untuk menerjemahkan proyek perubahan menjadi pengalaman nyata yang dirasakan peserta didik, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
BARISAN SIPAKAINGE menjadikan kepemimpinan sebagai penggerak, madrasah sebagai laboratorium perubahan, dan nilai agama sebagai fondasi pembentukan karakter ekologis.
Memahami Makna BARISAN SIPAKAINGE
Nama BARISAN SIPAKAINGE memadukan indikator lingkungan dengan kearifan lokal Sulawesi Selatan. BARISAN ini merupakan akronim dari tujuh indikator lingkungan, yaitu Bersih, Asri, Rindang, Indah, Sehat, Aman, dan Nyaman. Sementara itu, SIPAKAINGE mengandung makna saling mengingatkan, sebuah nilai luhur yang mendorong tumbuhnya kepedulian dan tanggung jawab bersama. Ketujuh indikator tersebut memberikan arah yang konkret bagi madrasah dalam membangun lingkungan pendidikan yang berkualitas.
Indikator tersebut bukan sekadar daftar persyaratan untuk mempercantik lingkungan madrasah. Ketujuhnya merupakan arah pembentukan budaya ekologis yang menghubungkan kondisi fisik lingkungan dengan perilaku manusia yang menghuninya.
Di sinilah nilai SIPAKAINGE mengambil peran. Lingkungan yang bersih tidak mungkin terwujud jika hanya petugas kebersihan yang bekerja. Madrasah yang rindang tidak akan bertahan jika tanaman hanya dirawat ketika ada lomba. Lingkungan yang sehat dan nyaman tidak akan tercipta apabila warga madrasah belum memiliki kesadaran kolektif.
Madrasah sebagai Laboratorium Ekoteologi
Menghubungkan proyek perubahan H. Ali Yafid dengan dunia pendidikan madrasah merupakan langkah strategis karena madrasah memiliki kekuatan dalam membangun kebiasaan sejak usia dini. Peserta didik tidak cukup hanya mengetahui bahwa Islam mengajarkan kebersihan, melarang kerusakan di bumi, dan menempatkan manusia sebagai khalifah yang memikul amanah menjaga kehidupan. Mereka perlu mengalami secara langsung bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam keseharian.
Madrasah dapat menjadi laboratorium ekoteologi ketika halaman, taman, tempat wudu, kantin, ruang kelas, dan tempat pengelolaan sampah dijadikan ruang pembelajaran yang menghubungkan iman dengan tindakan. Ketika peserta didik menggunakan air secukupnya saat berwudu, mereka belajar tentang tanggung jawab. Ketika mereka memilah sampah, mereka membangun kedisiplinan. Ketika mereka menanam pohon dan merawatnya hingga tumbuh, mereka belajar tentang kesabaran. Ketika mereka mengingatkan temannya dengan santun untuk menjaga kebersihan, mereka sedang mempraktikkan sipakainga.
Ekoteologi pun tidak berhenti sebagai materi yang disampaikan guru di depan kelas. Ia hadir dalam perilaku, keputusan, kebiasaan, dan cara warga madrasah memperlakukan alam. Madrasah yang menjadi laboratorium ekoteologi adalah madrasah yang menjadikan setiap sudut lingkungannya sebagai ruang belajar dan setiap kebiasaan baik sebagai pendidikan karakter.
Tujuh Indikator, Satu Gerakan Pendidikan
Agar proyek perubahan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam praktik pendidikan, tujuh indikator BARISAN dapat dijadikan kerangka kerja bagi madrasah.
Pertama, Bersih: membangun tanggung jawab bersama.
Kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan atau bagian dari persiapan menjelang kunjungan pejabat. Kebersihan harus menjadi tanggung jawab seluruh warga madrasah. Setiap kelas dapat membangun kebiasaan menjaga ruang belajar, mengurangi sampah, dan memastikan lingkungan tetap tertata. Peserta didik dilibatkan dalam pemilahan sampah serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Dengan demikian, kebersihan tidak hanya menghasilkan halaman yang rapi, tetapi juga membentuk disiplin dan rasa memiliki.
Kedua, Asri: menghadirkan alam dalam proses pendidikan.
Madrasah dapat mengembangkan taman edukasi, kebun sederhana, pembibitan, atau area tanaman obat sesuai ketersediaan lahan. Guru dapat menghubungkan kegiatan tersebut dengan pelajaran sains, agama, dan pendidikan karakter.
Peserta didik tidak hanya menikmati lingkungan yang hijau, tetapi memahami pentingnya merawat kehidupan.
Ketiga, Rindang: menanam untuk masa depan.
Penghijauan perlu disertai pemeliharaan. Setiap pohon yang ditanam harus memiliki pihak yang bertanggung jawab terhadap penyiraman, pemupukan, dan perawatannya. Madrasah dapat mengembangkan program adopsi pohon oleh kelas atau kelompok peserta didik. Keberhasilannya diukur bukan dari jumlah bibit yang ditanam semata, melainkan dari pohon yang tumbuh dan terpelihara.
Keempat, Indah: menumbuhkan rasa memiliki.
Lingkungan yang tertata menumbuhkan kenyamanan sekaligus rasa bangga terhadap madrasah. Penataan taman, kebersihan ruang kelas, perawatan fasilitas, dan pengelolaan sudut-sudut lingkungan dapat dilakukan secara partisipatif. Keindahan tidak harus membutuhkan biaya besar. Kreativitas, pemanfaatan bahan yang masih layak, dan kedisiplinan sering kali menjadi modal yang lebih penting.
Kelima, Sehat: membangun lingkungan yang mendukung kehidupan.
Kebersihan toilet, sanitasi, ketersediaan tempat sampah, kualitas kebersihan kantin, serta kebiasaan mencuci tangan merupakan bagian dari lingkungan pendidikan yang sehat. Madrasah juga dapat membiasakan aktivitas fisik, menjaga kebersihan saluran air, dan mengurangi sumber pencemaran di lingkungan sekolah.
Keenam, Aman: melindungi warga madrasah.
Lingkungan yang peduli ekologi juga harus memperhatikan keselamatan. Pohon yang berisiko tumbang, saluran air yang terbuka, kabel yang tidak tertata, atau sampah yang membahayakan perlu ditangani secara tepat. Peserta didik dapat dilibatkan dalam pengamatan sederhana terhadap risiko lingkungan, dengan pendampingan guru dan tindak lanjut oleh pihak yang berwenang.
Ketujuh, Nyaman: menghadirkan ruang belajar yang manusiawi.
Lingkungan yang teduh, bersih, tertata, dan sehat dapat mendukung konsentrasi belajar serta kesejahteraan warga madrasah. Ruang terbuka hijau, ventilasi yang baik, pengendalian kebisingan, dan kebiasaan menjaga ketertiban dapat dikembangkan sesuai kondisi satuan pendidikan.
Ketujuh indikator tersebut saling berkaitan. Kebersihan mendukung kesehatan, penghijauan memperkuat kenyamanan, sedangkan keteraturan dan keselamatan menjadikan lingkungan lebih aman. Seluruhnya bermuara pada satu tujuan: membangun madrasah yang mendidik manusia sekaligus merawat kehidupan.
SIPAKAINGE: Mengubah Instruksi Menjadi Kesadaran
Salah satu kekuatan BARISAN SIPAKAINGE adalah pendekatannya yang berakar pada kearifan lokal. Dalam budaya saling mengingatkan, perubahan tidak selalu harus dimulai dengan teguran keras atau perintah dari atasan. Perubahan dapat tumbuh melalui percakapan sederhana, keteladanan, ajakan, dan kepedulian yang dilakukan secara konsisten.
Seorang guru mengingatkan peserta didik untuk membuang sampah pada tempatnya. Seorang siswa mengajak temannya menghemat air. Kepala madrasah memberi contoh dengan menjaga kebersihan ruang kerja. Pengawas madrasah mendorong agar kepedulian lingkungan menjadi bagian dari pembinaan satuan pendidikan. Setiap orang memiliki peran, dan setiap peran memberikan kontribusi bagi perubahan bersama.
Nilai SIPAKAINGE juga mengajarkan bahwa mengingatkan harus dilakukan dengan santun. Tujuannya bukan mempermalukan mereka yang belum terbiasa menjaga lingkungan, melainkan mengajak semua orang memperbaiki perilaku.
Pendekatan ini penting dalam pendidikan karakter. Anak-anak perlu dibimbing untuk memahami alasan di balik sebuah kebiasaan, bukan sekadar mematuhinya karena takut mendapatkan hukuman.
Dengan demikian, budaya ekologis dapat tumbuh dari kesadaran, bukan semata-mata karena pengawasan.
Proyek Perubahan yang Harus Terukur dan Berkelanjutan
Sebuah proyek perubahan akan memiliki arti strategis apabila gagasannya dapat diterjemahkan menjadi tata kerja, dilaksanakan secara konsisten, dan memberikan dampak yang dapat dievaluasi.
Dalam pemberitaan mengenai rancangan BARISAN SIPAKAINGE, penerapannya diarahkan melalui penyusunan pedoman dan indikator, pelaksanaan pada lokasi percontohan, evaluasi serta penyempurnaan, kemudian replikasi ke satuan kerja lainnya. Pola tersebut dapat diterapkan pada pengembangan madrasah sebagai laboratorium ekoteologi melalui beberapa langkah.
Pertama, madrasah melakukan pemetaan kondisi lingkungan berdasarkan tujuh indikator BARISAN. Pemetaan ini menjadi dasar untuk menentukan persoalan prioritas dan kebutuhan perbaikan.
Kedua, madrasah menyusun rencana aksi dengan melibatkan kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, komite, dan orang tua. Setiap kegiatan perlu memiliki penanggung jawab, jadwal, serta target yang realistis.
Ketiga, madrasah melaksanakan aksi secara bertahap. Perubahan dapat dimulai dari persoalan sederhana, seperti pengurangan sampah, perawatan tanaman, atau penghematan air, sebelum dikembangkan menjadi program yang lebih luas.
Keempat, madrasah melakukan pemantauan dan evaluasi berkala. Hasilnya dapat dicatat melalui dokumentasi, data sederhana, dan laporan perkembangan. Penilaian tidak cukup mengukur jumlah kegiatan, tetapi juga perubahan perilaku dan keberlanjutan hasilnya.
Kelima, madrasah yang telah memiliki praktik baik dapat menjadi tempat belajar bagi madrasah lain. Pengalaman yang berhasil didokumentasikan, dibagikan, dan disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan yang berbeda.
Melalui pola ini, laboratorium ekoteologi bukan sekadar sebutan, melainkan pendekatan pendidikan yang memiliki proses, indikator, tanggung jawab, dan hasil yang dapat diperbaiki secara terus-menerus.
Dari Sulawesi Selatan untuk Generasi Masa Depan.
Sulawesi Selatan memiliki kekayaan kearifan lokal yang dapat menjadi sumber inspirasi dalam membangun pendidikan berkarakter. SIPAKAINGE adalah salah satu nilai yang mengingatkan bahwa perubahan akan lebih kuat ketika masyarakat bergerak bersama.
Ketika nilai tersebut dipadukan dengan ekoteologi dan pendidikan madrasah, terbuka peluang untuk membangun model pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk tanggung jawab terhadap lingkungan.
Bayangkan jika setiap madrasah memiliki lingkungan yang bersih dan rindang, peserta didiknya terbiasa memilah sampah, gurunya memberi teladan dalam menghemat air, dan seluruh warganya saling mengingatkan dengan santun.
Bayangkan pula jika kebiasaan tersebut dibawa pulang oleh peserta didik, dipraktikkan bersama keluarga, lalu menyebar ke lingkungan masyarakat. Dari proyek perubahan menjadi gerakan bersama. Dari madrasah menuju masyarakat., Madrasah siap menindaklajuti. (**)














