DaerahHajiNasionalNews

Pasangan Pensiunan Guru Asal Soppeng: Penantian Belasan Tahun yang Terbayar 

131
×

Pasangan Pensiunan Guru Asal Soppeng: Penantian Belasan Tahun yang Terbayar 

Share this article

WARTASULSELNEWS.COM – Suasana Aula Arafah Asrama Haji Makassar, Selasa (2/6/2026) dini hari dipenuhi pelukan haru dan ucapan syukur. Satu per satu jemaah haji kloter pertama Debarkasi Makassar tiba setelah menuntaskan perjalanan panjang dari Tanah Suci. Di tengah keramaian keluarga yang menjemput, sepasang suami istri asal Kabupaten Soppeng tampak tersenyum tenang sambil menggenggam erat tas kecil mereka.

H. Ruslam dan istrinya bukan orang yang banyak bicara. Namun dari wajah keduanya, terpancar rasa lega sekaligus bahagia setelah menyelesaikan ibadah haji yang telah mereka nantikan sejak 2011.

Pasangan pensiunan guru itu mengaku bersyukur karena seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar. Di usia yang tidak lagi muda, mereka justru merasakan pelayanan haji tahun ini jauh lebih baik dibanding cerita-cerita yang selama ini kerap mereka dengar.

“Alhamdulillah, selama di sana kami tidak pernah kekurangan makanan. Kalau ada keluhan, petugas cepat merespons,” ujar Ruslam sebelum mengikuti prosesi penerimaan jemaah di Aula Arafah.

Bagi Ruslam, kenyamanan selama berada di Makkah dan Madinah menjadi pengalaman yang membekas. Mulai dari konsumsi, pemondokan, hingga ketersediaan air bersih dinilainya sangat baik.

Ia mengaku sempat menyimpan kekhawatiran sebelum berangkat karena sering mendengar cerita tentang berbagai kendala pelayanan pada musim-musim haji sebelumnya. Namun kekhawatiran itu perlahan hilang setelah merasakan langsung pelayanan yang menurutnya semakin tertata.

“Biasanya kita dengar ada keluhan dari tahun-tahun lalu. Tapi tahun ini, Alhamdulillah, apa yang dulu sering dikeluhkan itu tidak kami rasakan lagi,” katanya.

Selama di Tanah Suci, perhatian petugas kloter dan tim kesehatan juga dirasakan sangat membantu, terutama bagi jemaah lanjut usia. Menurut Ruslam, petugas rutin mendatangi kamar untuk memastikan kondisi kesehatan jemaah.

Tak hanya itu, pembimbing ibadah dinilainya aktif mendampingi jemaah sejak awal hingga puncak pelaksanaan haji. Arahan ibadah diberikan secara langsung maupun melalui grup WhatsApp sehingga jemaah merasa lebih tenang dan terarah.

“Setiap mau ada kegiatan penting selalu ada bimbingan. Jadi kami merasa terbantu sekali,” tuturnya.

Perjalanan haji pasangan ini sendiri bukan perjalanan singkat. Selama belasan tahun, mereka menunggu giliran berangkat setelah mendaftar menggunakan tabungan dari hasil mengajar.

Kini, setelah seluruh rangkaian ibadah selesai, keduanya pulang membawa rasa syukur yang sulit disembunyikan. Di tengah suasana haru penyambutan jemaah, Ruslam pun menitip pesan kepada generasi muda agar tidak menunda mendaftar haji.

“Kalau bisa daftar dari muda, karena haji itu ibadah fisik. Butuh tenaga dan kesehatan,” pesannya.

Malam itu, Aula Arafah bukan sekadar tempat penyambutan. Ia menjadi ruang pertemuan antara rindu, syukur, dan cerita panjang perjuangan para tamu Allah yang akhirnya kembali ke tanah air dengan selamat.

Bagi Ruslam dan istrinya, perjalanan ke Tanah Suci bukan hanya tentang menunaikan rukun Islam kelima. Lebih dari itu, mereka menjadi saksi bahwa pelayanan haji Indonesia terus berbenah dan menghadirkan kenyamanan yang semakin dirasakan jemaah dari tahun ke tahun.







Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!