MEKKAH- Usai melaksanakan puncak ibadah haji di Arafah dan melontar jumrah aqabah di Mina, para jemaah haji Kloter 1 Embarkasi Makassar, asal Kabupaten Soppeng menggelar sebuah tradisi unik khas Sulawesi Selatan (Sulsel) yaitu Mappatoppo, atau yang biasa disebut “wisuda haji”.
Ritual sederhana. Namun sarat makna ini digelar di tenda tempat jemaah haji menginap.
Jemaah haji yang mengikuti tradisi Mappatoppo tampil rapi, sebagian mengenakan baju serba putih. Satu per satu, mereka “diwisuda” dengan disematkan sorban atau jilbab di kepala, sebagai simbol penghormatan atas gelar haji yang resmi mereka sandang.
Pembimbing Ibadah Kloter 1 Embarkasi Makassar, Dr. Hj. Haniah menjelaskan bahwa, Mappatoppo hanya merupakan tradisi dan tidak terkait dengan manasik haji.
Menurutnya, tradisi ini hanya dilakukan oleh orang Bugis-Makassar sebagai simbol kesempurnaan rukun Islam dan amanah besar yang dijunjung untuk mempertahankana kemabruran haji.
“Tradisi ini tidak sekadar seremonial. Ia adalah ungkapan syukur dan wujud kekhusyukan atas nikmat Allah yang telah memperkenankan kita menyelesaikan rangkaian haji dengan selamat,” ujar Dr. Hj. Haniah. Rabu,(27 Mei 2026).
Selain itu, tadi saya berpesan kepada jamaah bahwa ketika pulang tanah air jangan sampai karena “Mattalulu” telinga/leher jadi terbuka, ucapnya.
Prosesi berlangsung dalam suasana penuh haru, diiringi lantunan salawat dan doa bersama. Meski dilaksanakan di bawah tenda, jauh dari kampung halaman, tradisi ini tetap terasa sakral dan menyentuh hati.


















