WARTASULSELNEWS.COM – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kantor Kemenag Soppeng, Dr. Muhammad Yunus, mempresentasikan implementasi kurikulum berbasis cinta dan deep learning di Forum Musyawarah Kerja Kepala Madrasah tingkat MTs di MTs As’adiyah Tetewatu. Rabu (30/7/2025) kemarin.
Konsep Kurikulum berbasis “Cinta” adalah sebuah inisiatif dari Kementerian Agama Republik Indonesia untuk memasukkan nilai-nilai kasih sayang, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan dalam sistem pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan generasi muda yang lebih humanis, toleran, dan peduli terhadap sesama, serta mampu menjaga kerukunan dalam keberagaman.
Dihadapan para kepala madrasah, Dr. Yunus menjelaskan bahwa kurikulum berbasis cinta menekankan keterbukaan, kejujuran, dan kemampuan berdialog dalam suasana saling mendukung.
“Kurikulum ini tidak hanya membentuk individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman emosional, sosial, dan moral yang tinggi,” ujarnya.
Di jelaskan bahwa kurikulum berbasis cinta ini terdiri dari lima tema utama, yaitu:
– Cinta kepada Allah Swt. (Hubbullah): Membentuk kecintaan mendalam kepada Allah Swt. sebagai Sang Pencipta dan Pemelihara.
– Cinta kepada Rasulullah SAW (Hubburrasul): Meneladani akhlak mulia Rasulullah saw. sebagai teladan cinta kasih.
– Cinta kepada Sesama (Hubbunnaas): Menanamkan empati dan toleransi terhadap sesama manusia.
– Cinta kepada Lingkungan (Hubbulbiah): Menanamkan kesadaran untuk menjaga alam dan lingkungan sebagai amanah Allah Swt.
– Cinta kepada Bangsa dan Negara (Hubbul wathan wal bilad) Menumbuhkan semangat cinta tanah air sebagai bagian dari iman.
Lebih lanjut, Dr. Yunus juga menjelaskan pendekatan implementasi kurikulum berbasis cinta, antara lain:
– Reflective Learning: Pendekatan pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk menganalisis pengalaman mereka dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah dipelajari.
– Multikultural: Pendekatan pendidikan yang menghargai keragaman budaya dan bertujuan untuk menciptakan kesetaraan dan keadilan dalam pembelajaran.
– Partisipatif dan Kolaboratif: Pendekatan yang didasarkan pada prinsip bahwa pembelajaran yang efektif terjadi ketika peserta didik secara aktif terlibat dalam mengkonstruksi pengetahuan dan memecahkan masalah secara bersama-sama.
Dia berharap bahwa dengan implementasi kurikulum berbasis cinta dan deep learning, para siswa dapat menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan emosional yang tinggi, harapnya.
























