Daerah

Ceramah Subuh di Mesra Makassar, Andi Akmal Kupas Kewajiban Profesi dan Kontribusi dalam Islam

279
×

Ceramah Subuh di Mesra Makassar, Andi Akmal Kupas Kewajiban Profesi dan Kontribusi dalam Islam

Share this article

WARTASULSELNEWS.COM – Ketua Prodi HTN Siyasah Syar’iyyah Fakultas Syariah Hukum UIN Alauddin Makassar, Dr. H. Andi Muhammad Akmal, S.Ag. M.HI, didaulat mengisi jadwal ceramah subuh di salah satu Masjid yang menjadi Icon Sulsel dan Kota Makassar, yakni Mesjid Raya Makassar. Minggu, (8/3/2026).

Masjid yang selalu dipadati ribuan jemaah ini, Andi Muhammad Akmal tampil menyampaikan tausiyahnya dengan tema Kewajiban Berprofesi dan Berkontribusi dalam Islam.

Dalam tausiyahnya, alumni PKU MUI Sulsel 2002 ini menegaskan bahwa, Islam bukan agama yang hanya mengajarkan salat, puasa, dan zikir di dalam masjid saja.

“Islam adalah agama yang komprehensif (syamil), mengatur hubungan manusia dengan penciptanya (hablum minallah) dan hubungan manusia dengan manusia serta alam sekitarnya (hablum minannas dan Hablom minal alam), ” kata Andi Akmal.

Ia menjelaskan bahwa, salah satu aspek krusial dalam Islam adalah kewajiban untuk bekerja, berprofesi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Islam memandang bekerja mencari rezeki yang halal sebagai ibadah, bahkan kewajiban setelah ibadah fardhu sebagaimana termaktub di dalam QS. Al-Jumu’ah: 10).

فاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ

كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya: Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung, ” urainya.

Menurutnya, ayat ini menegaskan keseimbangan antara ibadah ritual dan ibadah sosial (bekerja). Islam mengecam kemalasan dan sikap meminta -minta.

Mantan Kepala KUA di Kabupaten Soppeng pada masanya, tampil lugas dengan sesekali menggunakan bahasa Bugis Makassar dengan memberikan motivasi kepada jamaah bahwa, berprofesi dengan (Profesionalisme) Itqan berarti bekerja dengan sungguh -sungguh, jujur, amanah, dan berilmu.

“Seorang Muslim tidak boleh bekerja asal-asalan. Pekerjaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.  Sebagaimana sabda Nabi saw.

إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُم عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ.       Artinya: Sesungguhnya Allah mencintai orang yang jika melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (profesional dan sempurna), ” jelasnya.

Selain itu, ia menjelaskan kewajiban berkontribusi (manfaat sosial). Dikatakan, bekerja tidak hanya untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk memberi manfaat bagi orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad). 

Dalam konteks modern, kontribusi ini bisa berupa inovasi, penciptaan lapangan kerja, kejujuran dalam berbisnis, atau profesionalisme dalam pelayanan publik.

Mengakhiri ceramahnya, Muballigh kelahiran Soppeng ini, mengajak kepada jamaah untuk menjadikan profesi kita apakah sebagai guru, dokter, pedagang, petani, pegawai, atau ibu rumah tangga—sebagai ladang ibadah.

“Bekerjalah dengan profesional (itqan), jujur, ikhlas karena Allah serta berkontribusi dan bermanfaatlah untuk manusia kemanusiaan dan alam. Semoga Allah swt. memberkahi setiap usaha dan senantiasa bermanfaat bagi umat dan bangsa, ” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!