Daerah

Tekan Percepatan Penanganan ATS ,Pemkab Soppeng Launching Program Wanua Passikola

270
×

Tekan Percepatan Penanganan ATS ,Pemkab Soppeng Launching Program Wanua Passikola

Sebarkan artikel ini

SOPPENG – Pemerintah Provinsi Sulawesi-Selatan melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BAPPELITBANGDA) gandeng Pemerintah Kabupaten Soppeng menggelar launching program “Wanua Passikola” untuk menekan percepatan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Soppeng.

Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Gabung Dinas Kabupaten Soppeng, Jalan Salotungo. Senin (26/6/2023).

Kepala Bappelitbangda Kabupaten Soppeng Andi Agus Nongki dalam laporannya mengatakan,launching program aksi kolaborasi Wanua Passikola ini dimaksudkan untuk memperkenalkan sekaligus awal pelaksanaan Wanua Passikola di Kabupaten Soppeng.

“Wanua Passikola ini di adopsi untuk menekan permasalahan berbasis kolaborasi baik penanganan Stunting begitu juga percepatan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS),”ucap Andi Agus Nongki.

Dijelaskan bahwa setelah dilakukan Advokasi di 4 (Empat) Desa rintisan yakni Desa Kampiri,Desa Bulue, Desa Umpungeng dan Desa Marioriaja melalui Sistem Informasi Berbasis Masyarakat (SIBP) dari 4 desa tersebut terdapat 267 Anak Tidak Sekolah (ATS).

“Dari 4 Desa terdapat 267 anak tidak sekolah dan setelah di Rekonfirmasi hanya 93 orang yang siap untuk kembali bersekolah,”ujarnya.

Senada yang disampaikan Bappelitbangda Provinsi Sulsel Ukrima Rijal, bahwa berdasarkan data BPS Sulsel angka ATS di Sulawesi selatan pada tahun 2022 sebesar 9,62%.

“Kaitan dengan 4 (empat desa) tadi di temukan ATS umur 7-18 tahun sebanyak 206 orang terdiri dari laki-laki 68,45% dan perempuan 31,55%,”ujar Ukri.

Sementara Wakil Bupati Soppeng Lutfhi Halide berharap dengan hadirnya program Wanua Passikola ini mampu menekan jumlah ATS.

“Dengan adanya program Wanua Passikola ini menjadikan tanggung jawab pemerintah untuk memenuhi hak-hak anak untuk sekolah dan tentu di dukung oleh berbagai tingkatan,” ucap Lutfhi.

Selain itu kata Lutfhi Anak Tidak Sekolah pada usia 7-18 harus kembali di ajak namun tentu harus di barengi dengan kesiapan kita untuk mengakomodir dan memberi solusi,tutupnya.

Acara dilanjutkan dangan pemukulan gendang sebagai tanda di launchingnya program Wanua Passikola dan penyerahan bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Soppeng. (Rizal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *